Ilustrasi (GIF: Pinterest)
“Wang!
Mau ke mana lo?” Teriakan Pandu tidak menghentikan gerakan Awang yang hendak
memakai jaketnya. Ia lalu mengenakan helmnya dan bersiap meluncur menjemput
penumpangnya sekaligus perempuan yang sedang ditaksirnya.
“Weits!
Buru-buru banget sih. Mau ke mana emangnya?” Pandu bertanya lagi ketika ia
sudah sampai di tempat Awang memarkirkan motornya.
“Biasa,
orderan,” sahut Awang sekadarnya.
Sudah
tiga bulan ini Awang menyambi menjadi driver Teman
Jalan, semacam ojek online yang
diluncurkan kampus tetangganya, Universitas Indonesia. Sebenarnya, Awang tidak
sebegitunya membutuhkan uang hingga mendaftarkan dirinya menjadi driver. Awalnya,
ia hanya iseng. Namun, seiring berjalannya waktu ternyata ia menikmati perannya
itu. Ia senang bercengkrama dengan penumpang yang berbeda setiap harinya dan mendengar
cerita-cerita penumpangnya yang seringkali menggelitik hati.
Apalagi,
kalau penumpangnya perempuan cantik. Itulah saatnya ia memanfaatkan ketampanan
dan sifatnya yang humoris untuk memikat hati perempuan-perempuan itu. Namun,
sudah beberapa hari ini ia menghiraukan tugasnya sebagai driver.
Sejak ia mendapatkan penumpang bernama Randhi, mahasiswi baru di kampusnya,
Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).
Wajah
Randhi masih kalah cantik dengan Mikha si primadona kampus, juga tidak seimut
Nana selebgram yang satu kelas dengannya. Namun, entah mengapa
melihat wajah Randhi bisa membuat hati Awang menjadi lebih tenang.
Pendekatan
demi pendekatan pun dilakukan Awang demi menaklukkan hati Randhi. Kini,
mengantar-jemput Randhi seakan menjadi tugasnya sehari-hari. Meskipun sudah tak
terhitung lagi berapa penolakan yang diterimanya, Awang tak pantang menyerah
mendapatkan perhatian Randhi. Bahkan, kini ia dijuluki “bucin” alias budak
cinta oleh teman-temannya.
“Ck!”
Decakan Pandu menghentikan lamunan Awang. “Lo lupa habis ini matkul Pak Rino?
Bisa abis lo kalau dia tau lo cabut lagi.”
“Udahlah,
nggak usah pikirin nasib gue. Yang ada kalau lo tetep nahan gue di sini, lo
yang bakal kena omel Pak Rino,” ujar Awang sambil menyalakan mesin motornya. Ia
melirik sahabatnya itu sekilas, “lagian.. gue mau jemput dia. Kalau nggak
gue jemput, PDKT gue bisa gagal.”
Awang
langsung melajukan motornya menuju Gedung Serba Guna (GSG). Setibanya di sana,
ia langsung menghubungi Randhi untuk memberitahu keberadaannya. Tak lama,
terlihat perempuan berpakaian hitam-putih menghampiri dirinya. Rambut sebahunya
sedikit berantakan tertiup angin, membuat Awang gemas untuk merapikannya.
“Udah
lama?” Ucap perempuan itu.
Suara
lembutnya mengalihkan perhatian Awang. “Kalau buat Randhi mah gue rela kok
nunggu lama,” katanya sambil menyerahkan helm untuk dipakai gadis yang selama
beberapa hari ini menemani harinya,
“Basi.
Udah ah. Buruan, gue udah ditungguin temen,” ujar Randhi sambil menaiki motor
Awang.
Seperti
biasa, perjalanan mereka tak pernah membuat Awang bosan. Jokes garing
yang dilontarkannya tetap membuat Randhi tertawa. “Gimana seminggu jadi
mahasiswa PNJ? Masih betah ‘kan?” Tanya Awang di sela tawanya sambil melirik
wajah Randhi melalui spion motor.
Terdengar
helaan napas di belakangnya, menandakan gadis pujaannya itu sedang lelah.
“Capek gue. Dosennya berbagai macam bentuk. Pusing. Belom lagi tugas mabim
(masa bimbingan) yang nggak kelar-kelar, Pengen balik ke SMA aja gue rasanya,”
gerutu Randhi yang disambut oleh kekehan Awang.
“Namanya
juga kuliah, apalagi lo kuliah di Politeknik. Ya pasti capek.”
“Kalau
lo? Kayaknya nggak capek tuh. Bahkan bisa nyambi ngojek-in gue. Padahal udah
gue bilang nggak usah anter-jemput lagi juga,” kata Randhi, setengah protes.
Kalau
nggak gitu gue nggak bisa sering ketemu lo, Ran.
“Gue ‘kan udah bilang, kalau buat lo mah mau ngapain juga gue jabanin,” jawab
Awang.
Setelah
percakapan itu, suasana canggung menyelimuti mereka. Tidak ada percakapan lagi
hingga mereka tiba di tujuan Randhi. Awang pun menghentikan motornya.
“Thanks
ya. Besok-besok nggak usah jemput gue lagi. Gue bisa naik bipol atau bikun,”
kata Randhi setelah turun dari motor dan menyerahkan helmnya pada Awang. “Oh
ya, sekali lagi gue kasih tau, jangan berharap apa-apa. I’m glad to have you
as a friend, dan gue nggak mau perasaan lo merusak hubungan kita,” lanjut
Randhi, sebelum pergi meninggalkan Awang yang menatapnya penuh tanda tanya.
****
Minggu
ke minggu berlalu dengan cepat. Awang masih gencar mendekati Randhi meski
semakin ke sini rasanya Randhi seolah menghindarinya. Mereka tetap berhubungan
via chat,
terkadang Awang juga masih mengantar Randhi dan bercanda di perjalanan.
Intinya, mereka masih sama seperti biasanya. Namun, sejak hari itu entah
mengapa Randhi seolah menutup dirinya, semakin mengukuhkan posisi Awang seakan
ia hanya dianggap sebagai tukang ojek saja.
Seperti
hari ini, mereka sedang makan siang di kantin teknik. Sembari menunggu
pesanannya, Awang terus mengajak Randhi berbincang meski perempuan itu terlihat
lebih fokus pada ponselnya.
“Gimana
Ran menurut lo?” Tanya Awang.
Randhi
mengalihkan perhatian dari ponselnya kepada Awang yang sedang menatapnya
lekat-lekat. “Eh gimana gimana?”
Awang
berdecak. “Dari tadi gue ngomong lo nggak dengerin?”
Alih-alih
menjawab, Randhi malah membereskan barang-barangnya. “Sorry ya gue
duluan, ada urusan,” ujarnya meninggalkan Awang bersamaan dengan penjual nasi
goreng yang mengantarkan pesanan mereka berdua.
“Loh,
loh, itu mbaknya mau ke mana, Mas? Ini nasi gorengnya gimana?” tanya si penjual
nasi goreng.
“Lagi
ngambek bang, biasa, cewek. Udah sini, saya makan aja dua-duanya,” kata Awang.
Ia pun mengambil dua piring nasi goreng serta dua gelas es teh manis dari
nampan yang dibawa penjual nasi goreng itu.
Tak
lama setelah itu, Pandu datang menghampirinya. “Katanya tadi mau makan bareng
cewek lo, makanya diajak anak-anak nongkrong nggak mau. Kok sekarang sendirian
macem jomblo ngenes gini?” Ejek Pandu.
“Kabur
doi, ngambek soalnya banyak cewek yang terpesona sama ketampanan gue,” sahut
Awang narsis.
Pandu
tergelak mendengar jawaban sahabatnya itu. “Nyadar juga tuh cewek kalau lo
tukang modus,” katanya sambil mencomot kerupuk di piring nasi goreng milik
Awang. “By the way,
sore ini gue nggak ngumpul ya. Biasa lah mau pacaran dulu, jarang-jarang nih
cewek gue yang ngajak duluan.”
Pandu
memang sudah memiliki kekasih. Mereka bahkan sudah menjalin hubungan sejak
lama. Namun sampai sekarang Awang tidak pernah bertemu dengan perempuan itu,
bahkan ia tidak mengetahui namanya.
“Ajak
cewek lo nongkrong lah,” kata Awang. “Selama lo pacaran kayaknya gue belum
pernah liat dia nongkrong bareng kita deh,” lanjutnya sambil terus menyantap
nasi goreng.
“Nggak
deh, anak rumahan dia,” tolak Pandu,
Awang
mengangkat sebelah alisnya keheranan. “Paling lo yang larang ‘kan?”
“Iya
takut ditikung sama lo!” ujar Pandu sambil menyeruput es teh manis di
hadapannya lalu berdiri hendak pergi dari sana. “Dah ya, gue balik. Cewek gue
udah nungguin di GSG.”
****
Keesokan
harinya, Awang baru saja tiba di kampusnya. Ia tengah melangkahkan kaki keluar
dari parkiran motor saat merasa namanya dipanggil. “Awang! Sini!”
Tak
jauh darinya, terlihat Pandu yang sedang duduk di taman bundar. Tempat biasa ia
berkumpul bersama teman-temannya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah perempuan
di samping Pandu yang duduk membelakanginya. Sepertinya ia kenal perempuan itu.
Tapi siapa?
Awang
meneruskan langkahnya menuju Pandu yang terlihat berbicara kepada perempuan di
sampingnya. Tiba-tiba, perempuan itu menoleh ke arahnya. Damn! Jangan
bilang..
“Randhi,
lo…?”
“Lho,
kamu udah kenal sama Awang, Ran?” Tanya Pandu keheranan. Pandu mengalihkan
perhatiannya pada Awang yang terlihat terkejut. “Katanya lo belum kenal cewek
gue? Kok udah tau namanya?”
Randhi
hanya menatapnya sendu. “I’ve told you,
Awang.”
Jelas
sudah. Sesuai perannya, selama ini Awang hanya menjadi teman jalan bagi Randhi.
FIN

3 Comments
Plot twist yg amat mengejutkan wkwkw kasian Awang :(
ReplyDeleteIh kok kesian banget ya Awang :(
ReplyDeleteplot twist anjay
ReplyDelete