![]() |
| Para pengunjung sedang mengendarai sepeda air (Foto: Dokumentasi pribadi) |
Semilir angin berhembus di antara
rimbunan pepohonan. Air danau berkilau memantulkan sinar matahari sore. Di
tengahnya, terdapat beberapa sepeda air yang dinaiki pengunjung untuk
berkeliling.
Itulah Setu Babakan. Terletak di
Kelurahan Serengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Selain
berfungsi untuk tempat wisata, danau ini juga berfungsi sebagai pusat
perkampungan budaya Betawi. Di tempat inilah budaya Betawi dipertahankan dan
dibudidayakan melalui permukiman yang masih kental akan budayanya.
Setu Babakan dilengkapi dengan
museum yang dapat dikunjungi para wisatawan untuk mengetahui informasi seputar
budaya Betawi. Namun, museum ini hanya dibuka hingga pukul empat sore,
selepasnya pengunjung hanya dapat merasakan bagian luarnya saja.
Tak hanya itu, berbagai warung
serta tempat jajanan yang terdapat di pinggir danau Setu Babakan menjadi spot
yang paling banyak disinggahi para pengunjung. Jajanan yang dijual pun
merupakan makanan dan minuman khas Betawi, seperti kerak telor, bir pletok,
laksa, dan lain-lain.
Hal ini pun diakui oleh Saiman.
Penjual kerak telor ini mengaku bahwa dagangannya cukup banyak dibeli
pengunjung. “Biasanya pengunjung banyak datang sore hari, selepas ashar. Beli
kerak telor untuk menemani ngobrol,” katanya.
“Tapi yang paling ramai itu tetap
kalau ada acara di sini. Misalnya pas ulang tahun Jakarta. Itu banyak
pengunjung yang datang. Bahkan bukan yang asal Jakarta saja, yang dari luar
kota juga pada ke sini untuk sekadar merasakan suasananya aja,” lanjut Saiman.
Perkampungan seluas 294 hektare ini
masih didominasi oleh rumah Kebaya, yaitu rumah adat Betawi yang khas dengan
terasnya yang luas. Tak hanya itu, rumah-rumah tersebut juga dilengkapi dengan
berbagai ornamen yang menjadi ciri khas. Salah satunya yaitu Langkan, yang
merupakan pagar pembatas teras berbahan kayu.
Tak jarang penghuni rumah di Setu
Babakan memajang ondel-ondel di teras rumahnya. Ada yang memajangnya hanya untuk
hiasan saja, tetapi ada juga yang sengaja menjajakannya untuk dijual kepada
pengunjung tempat wisata ini.
“Yang dipajang di depan itu
biasanya dijual untuk pengunjung, barangkali ada yang minat. Apalagi rumah ini
kan rumah pribadi, jadi nggak bayar
sewa tempat, lumayan buat nambah penghasilan sehari-hari,” ujar Nur, salah satu
warga Perkampungan Betawi.
Bukan hanya bonekanya saja, Nur
juga menjual pernak-pernik berbentuk ondel-ondel yang bisa digunakan atau
dikoleksi oleh para pengunjung. Misalnya, gantungan kunci ondel-ondel, miniatur
ondel-ondel, topeng ondel-ondel, dan sebagainya.
Nur berharap dengan menjual
pernak-pernik khas Betawi, ia dapat ikut serta melestarikan budaya nenek
moyangnya, yaitu budaya Betawi.

0 Comments