![]() |
Pembeli mengantre di depan kasir seusai memborong barang belanjaan di Giant Ekspres, Mampang Prapatan, Jakarta, Ahad, 23 Juni 2019. (Foto: TEMPO/Muhammad Hidayat)
|
Kabar mengejutkan datang dari salah satu gerai supermarket terbesar di Indonesia, Giant. Terhitung tanggal 28 Juli 2019, PT Hero Supermarket Tbk menyebutkan akan menutup enam gerai ritel milknya. Keenam gerai tersebut, yaitu Giant Ekspress Cinere Mall, Giant Ekspres Mampang Prapatan, Giant Ekspres Pondok Timur, Giant Ekstra Jatimakmur, Giant Ekstra Wisma Asri, dan Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur.
Direktur HERO Hadrianus Wahyu Trikusumo mengatakan salah satu faktor utama yang menyebabkan enam gerai Giant tersebut tutup adalah berubahnya pola belanja masyarakat yang tadinya secara konvensional menjadi digital. Hal yang sama pun diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta yang menyebutkan persaingan di era digital kian ketat sehingga harus mengorbankan outlet offline.
Hal ini seakan diperkuat dengan laporan keuangan perseroan pada akhir Maret 2019. Tercatat kerugian sebesar Rp3,5 Miliar dialami oleh HERO, yang mana sebagian besar terjadi pada unit bisnisnya di bidang makanan dan minuman, salah satunya Giant.
Tentu, kita tidak bisa menyalahkan masyarakat. Di sini, masyarakat hanya mengikuti perkembangan zaman yang sudah terjadi yaitu belanja melalui situs digital. Pilihan ada di tangan mereka. Bagaimana cara sebuah toko untuk mempertahankan pembelinya, itu yang sepatutnya dipikirkan.
Selain itu, penutupan gerai ritel ini juga sedikit banyak dipengaruhi oleh lokasi yang tidak tepat. Gerai tidak mampu bertahan akibat kurangnya daya beli masyarakat di lokasi tertentu, tetapi gerai tersebut tidak membuat perubahan yang signifikan untuk mengatasinya.
Menyusul pernyataan Tutum Rahanta, persaingan bisnis semakin ke sini memang semakin ketat. Sebut saja minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Banyak masyarakat yang lebih memilih untuk belanja di sana karena malas berkeliling. Di Indomart atau Alfamart, mereka dapat mencari barang yang diperlukan dengan mudah kemudian langsung membayarnya tanpa berkeliling terlebih dahulu.
Hal yang juga perlu diperhatikan ialah nasib para karyawan. Sebelumnya, PT Hero Supermarket Tbk telah melakukan Pemutusan Hak Karyawan (PHK) sebanyak 532 orang di sepanjang tahun 2018. Dengan tutupnya enam gerai Giant tersebut, tidak menutup kemungkinan bertambahnya karyawan yang terkena PHK sehingga meningkatan angka pengangguran di Indonesia.
Sebaiknya, pemerintah segera menindaklanjuti masalah ini karena ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Seperti yang kita ketahui, di sepanjang tahun 2018, hal ini telah terjadi kepada beberapa gerai ritel ternama di Indonesia, khususnya Jakarta, seperti Lotus, 7-Eleven, Matahari Department Store. Jika dibiarkan, kejadian seperti ini akan terus dialami gerai ritel lainnya dan sedikit banyak akan memengaruhi kestabilan ekonomi Indonesia.

0 Comments