Ilustrasi (Foto: Unsplash)
“Aku
sayang sama Bapak sebesar alam semesta.” Dulu, kalimat itu sering aku lontarkan
kepada Bapak, sosok yang selalu hadir dalam hidupku, mendampingiku menggapai
mimpi dan cita-citaku. Namun, seiring berjalannya waktu, sekarang untuk sekadar
bilang rindu saja aku tak mampu. Malu, karena umurku yang sudah dewasa.
Meksi
begitu, Bapak tetap menyayangiku sepenuh hati. Ia tetap berjuang mencari nafkah
demi memenuhi segala kebutuhan keluarga, terutama kebutuhanku yang masih duduk
di bangku kuliah. Selepas subuh setiap harinya, dengan menggunakan motor, Bapak
sudah menyapa dinginnya udara pagi untuk membeli kue subuh yang akan dijual
lagi di warung Ibu.
Sepulangnya
membeli kue, Bapak langung mengantarku pergi kuliah. Jarak antara rumah dan
kampus yang tak dekat, membuat Bapak harus bertemu terik matahari dan hujan
yang tak tentu datangnya. Begitu pun saat pulang, Bapak bersikeras tetap
menjemputku. “Nggak apa-apa. Bapak bosan jaga warung terus,” begitu katanya
setiap aku menolak untuk dijemput.
Jujur,
aku malu. Aku malu pada Bapak yang terus menunjukkan kasih sayangnya padaku. Padahal,
aku tak sedikit pun menunjukkan balasannya. Aku malah sering mengabaikan dan
membantah perintahnya, melengos saat diajak bicara.
Maaf
Pak, disaat Bapak sibuk banting tulang demi memenuhi kebutuhanku, aku malah
menutup mata, pura-pura tidak mengetahuinya. Disaat Bapak mencari waktu untuk
sekadar berbincang sedikit denganku, aku malah sibuk dengan duniaku sendiri,
mencari kebahagian sementara dengan berselancar di media sosial. Padahal ada
Bapak yang seharusnya aku bahagiakan.
Maaf Pak, sampai sekarang belum ada hal yang bisa
Bapak banggakan dariku. Namun, perlu Bapak tahu, namamu yang selalu kusebut
dalam setiap doaku. Aku janji, akan membuat Bapak bangga suatu hari nanti.
Doakan aku selalu ya, Pak.

1 Comments
Semoga Bapakmu sehat selalu dan semoga keinginanmu membuat bangga tercapai AAMIIIN
ReplyDelete