![]() |
| Ilustrasi gap year (Foto: Google) |
“Tidak ada salahnya dengan gap year, karena gap year
itu pilihan. Pilihan kita, anak-anak gap
year untuk menunda kuliah karena berbagai alasan. Tidak apa-apa, karena
menuntut ilmu itu tidak kenal usia,” ucap Dessy Astuti (22), yang sedang duduk
di lantai sekretariat GEMA, Pusgiwa lantai satu, Politeknik Negeri Jakarta
(PNJ), Jumat (4/1).
Dessy kemudian menceritakan pengalaman
yang ia dapat selama dua tahun tidak berkuliah. Tahun 2015, begitu lulus SMK,
lantas ia mendaftar kuliah. Waktu itu, jurusan yang dipilih adalah Ilmu
Komunikasi Universitas Padjajaran, tapi sayang ia tidak diterima. Lalu, ia
mencoba mendaftar bidikmisi di PNJ, dan kembali gagal dan akhirnya memutuskan
untuk bekerja terlebih dahulu.
Laptop abu-abu di hadapannya tidak
kehilangan perhatian. Sembari bercerita, ia tetap sibuk mengetik artikel untuk
tugas kuliahnya. Kertas-kertas yang berserakan di dekatnya tidak mengganggu
keseriusan ia mengejar deadline
tugas.
Usia Dessy belum genap 17 tahun ketika
ia harus melamar kerja di berbagai perusahaan. Setelah susah payah mencari kerja, ia diterima di PT Roki Indonesia,
sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, sebagai operator produksi,
bagian injection.
Sang ayah, Asman (44), yang memiliki
usaha bengkel dan servis pompa air, tidak lupa memberi dukungan dengan selalu
mengantarnya ke tempat penjemputan.
Kerja rodi ia jalani, libur hanya
sebulan sekali. Shift demi shift dilakoni demi mendapat upah yang sebanding. Hingga,
ia akhirnya memutuskan untuk keluar karena sering sakit-sakitan.
Ia mengaku kerja keras yang ia lakoni
selama satu tahun tiga bulan itu benar-benar menguras tenaga. Namun, kerja
kerasnya itu membuahkan hasil. Ia mampu membelikan barang-barang yang
dibutuhkan keluarganya.
“Alhamdulillah bisa beli alat-alat
rumah, seperti lemari dan kasur. Lalu bisa beli motor sendiri dan bantu bayar
motor ayah. Selain itu, bisa beliin adikku, Wawan, handphone. Sisanya aku tabung untuk biaya kuliah.”
Selama enam bulan tidak bekerja, gadis
berkerudung itu belajar untuk masuk jurusan yang diimpikannya di PNJ, yaitu Jurnalistik.
Sembari menunggu pengumuman, bekerja di PT Bussan Autofinance sebagai customer service.
Ini merupakan pekerjaan impiannya. Duduk
di depan komputer ditemani sejuknya AC, dengan ruangan disekat per kubikel. Pekerjaannya
hanya menerima telpon dari customer.
Dalam sehari, ada target yang harus
dipenuhi, sebanyak 250 penelpon, misalnya. Belum lagi harus melayani customer yang banyak jenisnya. Ada yang
cerewet, marah-marah, hingga sulit berkomunikasi karena berbicara menggunakan
bahasa daerah.
Agustus 2017, Dessy memutuskan resign karena diterima di Jurusan Teknik
Grafika dan Penerbitan, Program Studi Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta.
Selain memiliki banyak pengalaman di
dunia pekerjaan, Dessy yang merupakan lulusan SMK Multimedia juga memiliki
usaha desain yang diberi nama Hallo Desain.
“Awalnya bikin banner untuk ulang tahun sepupu, dari situ mulut ke mulut akhirnya
banyak orang yang order.”
Demi mencetak berbagai pesanan customer, ia harus naik motor dari
rumahnya ke percetakan yang terletak di stasiun Bekasi. Jarak dari rumahnya ke
stasiun Bekasi cukup jauh, sekitar 45 menit menggunakan sepeda motor. Namun,
demi membantu orangtuanya membiayai kuliah, ia tidak pernah mengeluh.
“Lumayan buat tambahin biaya kuliah,
sebulan omzetnya mencapai Rp300 ribu sampai Rp500 ribu. Syukur kalau ada yang
nyetak undangan, bisa sampai Rp5 juta. Tapi cukup jarang, karena aku kurang
promosi,” jelas Dessy.
Penghasilan ayahnya yang tak menentu,
sang ibu yang merupakan ibu rumah tangga, serta tanggungan adiknya yang masih
SMK membuat Dessy merasa membebani kedua orangtuanya. Karena itu, ia berusaha
mencari uang dengan membantu teman-temannya yang kesulitan mengerjakan tugas
desain maupun menulis berita dan menjadi freelancer
di media online seperti MuslimahDaily dan Hipwee.
Selain bekerja di bidang jurnalistik dan
desain grafis, Dessy juga mengambil pekerjaan di luar bidang tersebut, yaitu
sebagai karyawan di Wedding Organization
milik orangtua temannya.
“Per hari dapet Rp200 ribu, belum lagi
kalau followers dan likers
naik dan visitors bertambah
bisa dapat bonus,” tambahnya.
Setiap Sabtu, ia harus menempuh
perjalanan dari rumahnya di Bekasi, ke kantor WO-nya di Cibubur, ditambah
kegiatannya sebagai Redaktur Pelaksana BO GEMA, yaitu Pers Mahasiswa PNJ di
Depok.
Dessy berpesan kepada teman-teman yang
bernasib sepertinya, yaitu menunda kuliah alias gap year, untuk tidak patah semangat.
“Selama kita masih bisa berprestasi,
kenapa tidak? Kecuali kalau gap year
tapi pasif, tidak mencari-cari pengalaman, itu baru hidup kamu tidak ada
nilainya.
Menurut aku, untuk semua mahasiswa,
paling tidak kalian harus berkontribusi untuk kampus kalian. Jangan sampai
kuliah hanya untuk belajar dan dapat IP yang bagus, tapi tidak ada pengalaman
apa-apa. Tidak akan berguna untuk kehidupan kalian selanjutnya. Karena aku
yakin, guru terbaik adalah pengalaman,”
Ke depannya, Dessy bercita-cita menjadi
jurnalis di Kompas, lalu mendirikan medianya sendiri. “Untuk seakarang, namanya
Media Muda. Media ini nantinya akan bergerak di bidang media informasi untuk
anak-anak milennials.”
Ia juga ingin mengembangkan Hallo Desain
untuk menjadi jasa percetakan. Dessy menambahkan, setelah bekerja ia ingin
melanjutkan kuliahnya di Jurusan Ilmu Komunikasi.

0 Comments